Aku butuh kafein, mie, capsaicin, soda, asam, dan coklat.
Dia bertanya, "bukankah semua itu akan menyakitimu?"
Ya, aku memang butuh sakit.
Meskipun menyakitkan, terkadang menikmati proses kenaikan asam lambung itu menyenangkan. Merasakan perut yang melilit, nyeri hebat hingga ke ulu hati, ngilu pada punggung, hingga tidur yang pasti tak akan nyenyak. Aku menikmatinya, sungguh.
Aku butuh sakit. Sakit yang lebih menyakitkan dari rasa sakit di hati ini.
Aku memang cenderung menyakiti diri sendiri saat aku terluka. Karena hanya dengan begitu aku bisa sejenak melupakan sakit di hati. Karena hanya dengan begitu aku bisa bebas menangis.
Itu semua begitu melegakan, membuat lebih tenang.
Terdengar aneh memang, tapi itu benar. Mungkin ini seperti alkohol untuk para pemabuk. Seperti rokok untuk para perokok. Meskipun anehnya ketika ku konsumsi semua itu, tak ada rasa yang ku rasakan. Semua hambar.
Aku tau itu tidak baik. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan.
Dan hal terakhir yang ku butuhkan adalah pelukan. Aku butuh dekapan orang lain tuk menyerap segala rasa sakit ini. Belaian pada punggung tuk menyadarkan bahwa aku tak sendiri, bahwa aku lebih kuat dari rasa sakit itu..
.
Sabtu, 17 Desember 2016
Rabu, 26 Oktober 2016
Jangan lihat!
Jangan lihat!
Aku sedang tidak cantik sekarang.
Aku butuh kamu untuk membuatku cantik lagi.
Bisakah kau membuatku cantik tanpa melihatku?
Saat ini aku hanya butuh dia ada, memelukku.
Agar aku yakin bahwa dia ada hanya untukku.
Bisakah kau mengatakan padanya?
Cukup!
Aku tau kamu pasti mentertawakan aku karena ini kembali lagi terulang seperti dulu.
Selain juga karena wajahku saat ini.
Meski aku sangat menyukai tawamu, tapi aku benci caramu tertawa saat ini.
Aku tau, aku terlihat kekanakan saat ini.
Seperti anak kecil yang tak rela bonekanya dipinjam dan dipeluk anak lain.
Tapi bukankah wajar bagiku untuk merasa tak senang?
Apakah salah ketika aku merasa aku begitu cemburu?
Demi Tuhan katakan bahwa aku salah?
Hey!
Stop terus tertawa.
Aku sedang tidak cantik sekarang.
Aku butuh kamu untuk membuatku cantik lagi.
Bisakah kau membuatku cantik tanpa melihatku?
Saat ini aku hanya butuh dia ada, memelukku.
Agar aku yakin bahwa dia ada hanya untukku.
Bisakah kau mengatakan padanya?
Cukup!
Aku tau kamu pasti mentertawakan aku karena ini kembali lagi terulang seperti dulu.
Selain juga karena wajahku saat ini.
Meski aku sangat menyukai tawamu, tapi aku benci caramu tertawa saat ini.
Aku tau, aku terlihat kekanakan saat ini.
Seperti anak kecil yang tak rela bonekanya dipinjam dan dipeluk anak lain.
Tapi bukankah wajar bagiku untuk merasa tak senang?
Apakah salah ketika aku merasa aku begitu cemburu?
Demi Tuhan katakan bahwa aku salah?
Hey!
Stop terus tertawa.
Senin, 24 Oktober 2016
24
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Pada pagi kedua puluh empat ini, kupanjatkan segala doaku untukmu.
Meski tak pernah sempat aku membuat tawa di hari kedua puluh empat, namun aku slalu berharap kebahagiaan dimanapun kau berada.
Teruslah berusaha untuk mewujudkan segala mimpimu.
Selamat hari kedua puluh empat..
Pada pagi kedua puluh empat ini, kupanjatkan segala doaku untukmu.
Meski tak pernah sempat aku membuat tawa di hari kedua puluh empat, namun aku slalu berharap kebahagiaan dimanapun kau berada.
Teruslah berusaha untuk mewujudkan segala mimpimu.
Selamat hari kedua puluh empat..
Sabtu, 22 Oktober 2016
Nyata
Bukti keheningan malam adalah diam
Belah keangkuhan menajamkan sekam
Aku dengan pengayuhku melaju
Menembus waktu dan imajinasiku
Patuh tertunduk sungkur meluruh
Puing tetap saja puing
Puing bagian dari masa lalu
Belah keangkuhan menajamkan sekam
Aku dengan pengayuhku melaju
Menembus waktu dan imajinasiku
Patuh tertunduk sungkur meluruh
Puing tetap saja puing
Puing bagian dari masa lalu
21 Oktober 2016
Hai..
Rasanya kepala ini terlalu riuh, terlalu sempit, terlalu memuakkan.
Kau tau seperti apa rasanya?
Lingkar hitam dimata ini semakin mengerikan.
Aku yakin kamu pasti akan mentertawakan wajahku saat ini. Kamu pasti akan bilang aku mirip mbak kunti, panda anoreksia, atau badut yang gizi buruk. Tapi aku lebih memilih mendengarkan segala ejekanmu saat ini. Aku butuh kamu ada untuk menertawakanku. Aku butuh tawamu..
Jika aku boleh meminta, aku ingin kamu membawaku pergi bersama segala tawamu ke tempat yang jauh. Terbang mengelilingi angkasa, menembus awan, merasakan hangatnya matahari, melupakan segala beban jiwa.
Aku rindu kelakar tawa kita..
Jangan memelukku! karena itu mungkin malah akan membuatku semakin tak kuasa menahan tangis, dan aku yakin aku pasti akan lebih jelek dari sebelumnya. Aku tak ingin membuatmu lebih bahagia mengejekku.
Rasanya sakit sekali di hati ini.
Segalanya tiada arti
Aku terus mencari, tapi tiada pernah ku temui.
Apa kamu punya jawabannya?
Rasanya kepala ini terlalu riuh, terlalu sempit, terlalu memuakkan.
Kau tau seperti apa rasanya?
Lingkar hitam dimata ini semakin mengerikan.
Aku yakin kamu pasti akan mentertawakan wajahku saat ini. Kamu pasti akan bilang aku mirip mbak kunti, panda anoreksia, atau badut yang gizi buruk. Tapi aku lebih memilih mendengarkan segala ejekanmu saat ini. Aku butuh kamu ada untuk menertawakanku. Aku butuh tawamu..
Jika aku boleh meminta, aku ingin kamu membawaku pergi bersama segala tawamu ke tempat yang jauh. Terbang mengelilingi angkasa, menembus awan, merasakan hangatnya matahari, melupakan segala beban jiwa.
Aku rindu kelakar tawa kita..
Jangan memelukku! karena itu mungkin malah akan membuatku semakin tak kuasa menahan tangis, dan aku yakin aku pasti akan lebih jelek dari sebelumnya. Aku tak ingin membuatmu lebih bahagia mengejekku.
Rasanya sakit sekali di hati ini.
Segalanya tiada arti
Aku terus mencari, tapi tiada pernah ku temui.
Apa kamu punya jawabannya?
Minggu, 25 September 2016
Kosong
Hai.. rasanya begitu lama tak menyapamu.
Benar sekali, aku memang merindukanmu.. saat-saat seperti ini rasanya aku ingin bersamamu, menumpahkan segala yang ku rasa, menangis sepuasnya karena sedihku, atau tertawa sepuasnya karena bahagiaku.
Tahukah kau?
Lagi dan lagi aku berada pada titik dimana aku merasa kehilangan arah dan tujuan.
Aku seperti memiliki tanpa tau apa yang kupunya.
Aku berharap tanpa tau apa yang menjadi inginku.
Kemana aku harus mencari segala jawaban dari tanya di hati?
Aku merasa segalanya kosong..segalanya hampa..
Ketika semua berlari mengejar segala tujuannya, aku hanya diam mematung tak mengerti.
Mereka semua tertawa bahagia menyambut segala harap.
Sedang aku?
Menangis, mengais bayang mimpiku yang tersisa.
Tenggelam dalam kebodohan dan ketidaktahuanku.
Aku benci merasa bodoh!
Tolol!
Ku sadari bahwa selama ini aku berjalan untuk arah orang lain.
Aku bermimpi untuk mimpi orang lain.
Aku tertawa untuk tawa orang lain.
Aku bahagia untuk bahagia orang lain.
Dan kini, ketika semua yang telah ku miliki, aku merasa tiada arti..
Karena itu semua bukan milikku, tapi milik orang lain.
Namun.. benarkah itu semua milik orang lain?
Aku bertanya,
Inikah hidupku?
Inikah tujuanku?
Inikah mimpiku?
Inikah cintaku?
Dan semakin aku bertanya, semakin penuh pertanyaan dalam benakku.
Semuanya terasa begitu berat, begitu menyiksa, begitu menyebalkan.
Tak ada seorang pun kan mengerti, sedang aku pun tak memahami.
Yang kulakukan hanya menghabiskan hal berhaga milik manusia, waktu..
Aku menyia-nyiakannya.
Wahai penuntun jiwa, bawalah aku kepada mimpi ku, tujuan hidupku, dan cintaku, hingga ku temui arti dari hidupku ini..
Benar sekali, aku memang merindukanmu.. saat-saat seperti ini rasanya aku ingin bersamamu, menumpahkan segala yang ku rasa, menangis sepuasnya karena sedihku, atau tertawa sepuasnya karena bahagiaku.
Tahukah kau?
Lagi dan lagi aku berada pada titik dimana aku merasa kehilangan arah dan tujuan.
Aku seperti memiliki tanpa tau apa yang kupunya.
Aku berharap tanpa tau apa yang menjadi inginku.
Kemana aku harus mencari segala jawaban dari tanya di hati?
Aku merasa segalanya kosong..segalanya hampa..
Ketika semua berlari mengejar segala tujuannya, aku hanya diam mematung tak mengerti.
Mereka semua tertawa bahagia menyambut segala harap.
Sedang aku?
Menangis, mengais bayang mimpiku yang tersisa.
Tenggelam dalam kebodohan dan ketidaktahuanku.
Aku benci merasa bodoh!
Tolol!
Ku sadari bahwa selama ini aku berjalan untuk arah orang lain.
Aku bermimpi untuk mimpi orang lain.
Aku tertawa untuk tawa orang lain.
Aku bahagia untuk bahagia orang lain.
Dan kini, ketika semua yang telah ku miliki, aku merasa tiada arti..
Karena itu semua bukan milikku, tapi milik orang lain.
Namun.. benarkah itu semua milik orang lain?
Aku bertanya,
Inikah hidupku?
Inikah tujuanku?
Inikah mimpiku?
Inikah cintaku?
Dan semakin aku bertanya, semakin penuh pertanyaan dalam benakku.
Semuanya terasa begitu berat, begitu menyiksa, begitu menyebalkan.
Tak ada seorang pun kan mengerti, sedang aku pun tak memahami.
Yang kulakukan hanya menghabiskan hal berhaga milik manusia, waktu..
Aku menyia-nyiakannya.
Wahai penuntun jiwa, bawalah aku kepada mimpi ku, tujuan hidupku, dan cintaku, hingga ku temui arti dari hidupku ini..
Selasa, 30 Agustus 2016
Imagi
Tanpa sadar aku telah membuat satu sosok yang sangat aku sayang, yang sangat aku inginkan, yang sangat aku harapkan, dan yang sangat aku butuhkan.
Namun tak dapat ku temui, tak dapat kudengar suaranya, tak dapat ku lihat rupanya.
Dia ada namun tak pernah ada. Dia hidup namun tak punya wujud.
Dia yang hanya ada dalam pikirku namun selalu dihatiku.
Namun tak dapat ku temui, tak dapat kudengar suaranya, tak dapat ku lihat rupanya.
Dia ada namun tak pernah ada. Dia hidup namun tak punya wujud.
Dia yang hanya ada dalam pikirku namun selalu dihatiku.
Ingin Sendiri
Terkadang aku ingin melakukan hal yang paling aku benci.
Aku ingin sendiri.
Aku ingin tak seorang menggangguku.
Aku ingin tak seorang mengusikku.
Aku tak perlu memikirkan mereka.
Aku tak perlu bersandiwara.
Cukup aku dan keegoisanku, sendiri..
Memikirkan tentang arti hidup, tujuan, harapan, dan bahagia.
Memikirkan tentang arti aku..
Aku ingin sendiri.
Aku ingin tak seorang menggangguku.
Aku ingin tak seorang mengusikku.
Aku tak perlu memikirkan mereka.
Aku tak perlu bersandiwara.
Cukup aku dan keegoisanku, sendiri..
Memikirkan tentang arti hidup, tujuan, harapan, dan bahagia.
Memikirkan tentang arti aku..
Sabtu, 28 Mei 2016
28 Mei 2016 (skripsiku)
Seperti judulnya, saat ini aku memang sedang sibuk membuat skripsiku.
Tugas akhir sebagai syarat untuk aku bisa mengenakan toga nantinya. Itulah kenapa aku jadi jarang menulis akhir-akhir ini.
Tapi malam ini rasanya penat sekali. Ternyata mengerjakan skripsi tidak semudah seperti yang aku pikirkan di awal. Menunggu dosen berjam-jam hanya untuk bimbingan 10 menit saja. Tumpukan revisi, buku-buku, dan juga laptop menjadi teman setia setiap hari. Menjenuhkan..
Hey, rasanya stok semangat yang aku punya semakin menipis.
Terasa lelah menghadapi skripsi. Belum lagi skripsiku memang cukup sulit. Ketika teman yang lain sudah memulai untuk penelitian, aku masih jauh dengan itu semua. Sedih rasanya.. ingin mengeluh, ingin menangis, ingin segera selesai rasanya.
Tapi kemudian aku berpikir, bila nanti ini semua telah berakhir, apa yang akan aku lakukan?
Semakin aku memikirkannya, semakin ingin rasanya aku menangis. Aku tak tau..
Sepertinya aku butuh pasokan semangat yang cukup banyak..
aku butuh tawamu
aku butuh dukunganmu
katakan bahwa aku bisa
Katakan bahwa aku ini pintar
Katakan bahwa kau bangga padaku
Yakinkan bahwa aku mampu menyelesaikannya..
Tugas akhir sebagai syarat untuk aku bisa mengenakan toga nantinya. Itulah kenapa aku jadi jarang menulis akhir-akhir ini.
Tapi malam ini rasanya penat sekali. Ternyata mengerjakan skripsi tidak semudah seperti yang aku pikirkan di awal. Menunggu dosen berjam-jam hanya untuk bimbingan 10 menit saja. Tumpukan revisi, buku-buku, dan juga laptop menjadi teman setia setiap hari. Menjenuhkan..
Hey, rasanya stok semangat yang aku punya semakin menipis.
Terasa lelah menghadapi skripsi. Belum lagi skripsiku memang cukup sulit. Ketika teman yang lain sudah memulai untuk penelitian, aku masih jauh dengan itu semua. Sedih rasanya.. ingin mengeluh, ingin menangis, ingin segera selesai rasanya.
Tapi kemudian aku berpikir, bila nanti ini semua telah berakhir, apa yang akan aku lakukan?
Semakin aku memikirkannya, semakin ingin rasanya aku menangis. Aku tak tau..
Sepertinya aku butuh pasokan semangat yang cukup banyak..
aku butuh tawamu
aku butuh dukunganmu
katakan bahwa aku bisa
Katakan bahwa aku ini pintar
Katakan bahwa kau bangga padaku
Yakinkan bahwa aku mampu menyelesaikannya..
Dewani
Dewani..
Begitulah dia selalu menyebut dirinya.
Sesosok manusia baru yang aku kenal.
Dia adalah seorang teman. Dengan bahasalah kami berteman.
Banyak orang yang berkata bahwa dia aneh. Ya, awal aku mengenalnya pun juga merasa aneh. Dia selalu berkata bahwa pohon, hujan, kopi adalah teman setia baginya.
Cara berpikirnya, pandangannya akan banyak hal di dunia ini, tentang protesnya pada sifat buruk manusia, akan cinta, persahabatan, dan juga Tuhan. Dia menyampaikannya dengan bahasa yang berbeda. Dia selalu berbicara seolah dia punya dunianya sendiri. Tapi dia menikmatinya, sangat menikmatinya. Dan begitu bangga dengan bahasanya. Walau tak pernah aku ungkapkan, dari sekian banyak hal yang ada dalam dirinya, gaya bahasanyalah yang sangat menarik.
Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu lagi dengan seseorang yang ku sukai bahasanya selain dia.. ya dia orang pertama yang membuatku menyukai menulis.
Meski mereka berbeda, tapi mereka punya gaya bahasa yang lebih menarik dari kebanyakan orang. Mereka juga orang yang baik, walau kadang banyak orang yang tak bisa melihat kebaikannya.
oh ya, satu kesamaan lagi yang mereka punya, sama-sama suka tersenyum.
Hai teman baruku, terima kasih..
Ku doakan sukses untuk hidupmu.
Begitulah dia selalu menyebut dirinya.
Sesosok manusia baru yang aku kenal.
Dia adalah seorang teman. Dengan bahasalah kami berteman.
Banyak orang yang berkata bahwa dia aneh. Ya, awal aku mengenalnya pun juga merasa aneh. Dia selalu berkata bahwa pohon, hujan, kopi adalah teman setia baginya.
Cara berpikirnya, pandangannya akan banyak hal di dunia ini, tentang protesnya pada sifat buruk manusia, akan cinta, persahabatan, dan juga Tuhan. Dia menyampaikannya dengan bahasa yang berbeda. Dia selalu berbicara seolah dia punya dunianya sendiri. Tapi dia menikmatinya, sangat menikmatinya. Dan begitu bangga dengan bahasanya. Walau tak pernah aku ungkapkan, dari sekian banyak hal yang ada dalam dirinya, gaya bahasanyalah yang sangat menarik.
Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu lagi dengan seseorang yang ku sukai bahasanya selain dia.. ya dia orang pertama yang membuatku menyukai menulis.
Meski mereka berbeda, tapi mereka punya gaya bahasa yang lebih menarik dari kebanyakan orang. Mereka juga orang yang baik, walau kadang banyak orang yang tak bisa melihat kebaikannya.
oh ya, satu kesamaan lagi yang mereka punya, sama-sama suka tersenyum.
Hai teman baruku, terima kasih..
Ku doakan sukses untuk hidupmu.
Rabu, 11 Mei 2016
Cengeng
Setiap anak kecil pasti pernah menangis, begitu juga denganku saat kecil.
Aku selalu menangis saat merasa sakit, atau saat aku merasa kesal dengan permintaanku yang tak kunjung terwujud. Saat aku kecil, aku sangat terkenal dengan tangisanku yang keras dan lama. Aku bisa saja menangis hingga berjam-jam, mengurung diri di kamar dan masih banyak hal menyebalkan lain yang aku lakukan saat aku menangis. Itulah kenapa identitas sebagai anak cengeng sangat melekat padaku saat kecil. Aku, si anak yang hobinya nangis.
Sepertinya identitas itu terus melekat hingga kini.
Aku masih terus saja mudah menangis. Yang membedakan adalah kini tangisanku tidak lagi sekeras dulu saat aku kecil. Aku masih tetap menangis ketika aku merasa tersakiti, dan anehnya aku selalu saja menangis saat moodku buruk. Entah itu karena aku marah, kesal, bete, atau kecewa. Entahlah.. itu terasa menyebalkan untukku.
Bila mungkin orang lain akan marah berteriak atau mengumpat saat dia merasa kesal, tapi tidak denganku. Aku akan menangis menahan kekesalanku sendiri, hingga aku lelah untuk menangis dan akhirnya aku tertidur.
Begitulah aku, orang yang tak pandai mengutarakan isi hatinya. Yang hanya memilih diam dan menangis menahan emosi hati. Ternyata memang aku masih saja cengeng. Terkadang aku ingin seperti yang lain, yang marah ketika dia kesal, bukan malah menangis sendiri. Namun ketika aku dihadapkan dengan momen yang menyedihkan, dimana normalnya banyak orang yang akan menangis saat berada di posisiku, aku tidak menangis. Entahlah, memang terasa sakit, seolah seperti ada yang meremas hatimu, begitu menyakitkan rasanya, namun tetap sulit sekali untuk menangis.
Entahlah..
Aku selalu menangis saat merasa sakit, atau saat aku merasa kesal dengan permintaanku yang tak kunjung terwujud. Saat aku kecil, aku sangat terkenal dengan tangisanku yang keras dan lama. Aku bisa saja menangis hingga berjam-jam, mengurung diri di kamar dan masih banyak hal menyebalkan lain yang aku lakukan saat aku menangis. Itulah kenapa identitas sebagai anak cengeng sangat melekat padaku saat kecil. Aku, si anak yang hobinya nangis.
Sepertinya identitas itu terus melekat hingga kini.
Aku masih terus saja mudah menangis. Yang membedakan adalah kini tangisanku tidak lagi sekeras dulu saat aku kecil. Aku masih tetap menangis ketika aku merasa tersakiti, dan anehnya aku selalu saja menangis saat moodku buruk. Entah itu karena aku marah, kesal, bete, atau kecewa. Entahlah.. itu terasa menyebalkan untukku.
Bila mungkin orang lain akan marah berteriak atau mengumpat saat dia merasa kesal, tapi tidak denganku. Aku akan menangis menahan kekesalanku sendiri, hingga aku lelah untuk menangis dan akhirnya aku tertidur.
Begitulah aku, orang yang tak pandai mengutarakan isi hatinya. Yang hanya memilih diam dan menangis menahan emosi hati. Ternyata memang aku masih saja cengeng. Terkadang aku ingin seperti yang lain, yang marah ketika dia kesal, bukan malah menangis sendiri. Namun ketika aku dihadapkan dengan momen yang menyedihkan, dimana normalnya banyak orang yang akan menangis saat berada di posisiku, aku tidak menangis. Entahlah, memang terasa sakit, seolah seperti ada yang meremas hatimu, begitu menyakitkan rasanya, namun tetap sulit sekali untuk menangis.
Entahlah..
Minggu, 10 April 2016
Terima Kasih dan Maaf
Untuk kamu yang mencintaiku.. ku ucapkan terima kasih dan permohonan maafku.
Terima kasih karena kau telah memilihku
Terima kasih karena kau telah memperhatikanku
Terima kasih karena kau telah merindukanku
Terima kasih karena kau telah mencintaiku
Dan maaf..
Maaf telah mengabaikanmu
Maaf telah tak mempedulikanmu
Maaf karena aku tak mampu menerima segala macam bentuk perhatianmu
Maaf karena aku tak mampu memiliki rasa yang sama sepertimu
Aku hanya punya satu hati, dan hatiku telah ku berikan pada dia yang aku cintai..
Ku yakin kelak akan ada seseorang yang akan memberikan hatinya tulus hanya untuk dirimu.
Semoga..
Terima kasih karena kau telah memilihku
Terima kasih karena kau telah memperhatikanku
Terima kasih karena kau telah merindukanku
Terima kasih karena kau telah mencintaiku
Dan maaf..
Maaf telah mengabaikanmu
Maaf telah tak mempedulikanmu
Maaf karena aku tak mampu menerima segala macam bentuk perhatianmu
Maaf karena aku tak mampu memiliki rasa yang sama sepertimu
Aku hanya punya satu hati, dan hatiku telah ku berikan pada dia yang aku cintai..
Ku yakin kelak akan ada seseorang yang akan memberikan hatinya tulus hanya untuk dirimu.
Semoga..
Rabu, 06 April 2016
Bagian Besar dari yang Terkecil
Terkadang kita harus rela hanya menjadi bagian kecil dari hidup seseorang, yang artinya kita tak cukup pantas tuk menjadi priorotasnya.
Tapi pernahkah kamu berpikir jika kamu mungkin telah menjadi prioritas bagi orang lain?
Ya, seperti halnya dirimu, aku pun telah menjadi bagian kecil pelengkap hidup seseorang.
Dan itu kamu..
Bila perjalanan manusia di dunia ini kita ibaratkan sebagai sebuah film pendek, mungkin aku hanyalah pemeran figuran dalam film pendekmu, yang tak pernah kau sadari keberadaannya dan tak memberi arti apapun pada jalannya pertunjukan.
Begitu tak berartinya hingga kau tak pernah sadari bahwa kau telah menjadi bagian dari film pendekku. Meski kau mungkin tak akan menjadi pemeran utamanya, tapi paling tidak kamu pernah menjadi pemeran utama dalam satu adegan yang ada. Dan kini kau telah menjadi pemeran pembantu dalam ceritaku. Ya, pemeran pembantu, satu adegan yang membantu jalannya cerita, membantuku memahami akan diriku, kelebihanku, tujuanku, dan mimpiku.
Jangan pernah lupakan itu.
Jangan berkecil hati karena kita bukan jadi prioritas seseorang yang kita inginkan, karena mungkin kau telah menjadi prioritas bagi orang lain yang tak pernah kau pikirkan.
Percayalah, kelak akan ada seseorang yang memang akan pantas tuk menjadikanmu prioritas dalam cerita film pendeknya,
until the end, forever.
Tapi pernahkah kamu berpikir jika kamu mungkin telah menjadi prioritas bagi orang lain?
Ya, seperti halnya dirimu, aku pun telah menjadi bagian kecil pelengkap hidup seseorang.
Dan itu kamu..
Bila perjalanan manusia di dunia ini kita ibaratkan sebagai sebuah film pendek, mungkin aku hanyalah pemeran figuran dalam film pendekmu, yang tak pernah kau sadari keberadaannya dan tak memberi arti apapun pada jalannya pertunjukan.
Begitu tak berartinya hingga kau tak pernah sadari bahwa kau telah menjadi bagian dari film pendekku. Meski kau mungkin tak akan menjadi pemeran utamanya, tapi paling tidak kamu pernah menjadi pemeran utama dalam satu adegan yang ada. Dan kini kau telah menjadi pemeran pembantu dalam ceritaku. Ya, pemeran pembantu, satu adegan yang membantu jalannya cerita, membantuku memahami akan diriku, kelebihanku, tujuanku, dan mimpiku.
Jangan pernah lupakan itu.
Jangan berkecil hati karena kita bukan jadi prioritas seseorang yang kita inginkan, karena mungkin kau telah menjadi prioritas bagi orang lain yang tak pernah kau pikirkan.
Percayalah, kelak akan ada seseorang yang memang akan pantas tuk menjadikanmu prioritas dalam cerita film pendeknya,
until the end, forever.
Jumat, 12 Februari 2016
Cinta Adalah Cahaya
Cinta adalah cahaya
Yang ditulis dengan tinta cahaya
Yang tergores di atas lembar cahaya
Yang memberikan cahaya
Dan akan selalu bercahaya
Karena cinta adalah cahaya
-Akhwat Solo-
Yang ditulis dengan tinta cahaya
Yang tergores di atas lembar cahaya
Yang memberikan cahaya
Dan akan selalu bercahaya
Karena cinta adalah cahaya
-Akhwat Solo-
Langganan:
Komentar (Atom)