Seperti judulnya, saat ini aku memang sedang sibuk membuat skripsiku.
Tugas akhir sebagai syarat untuk aku bisa mengenakan toga nantinya. Itulah kenapa aku jadi jarang menulis akhir-akhir ini.
Tapi malam ini rasanya penat sekali. Ternyata mengerjakan skripsi tidak semudah seperti yang aku pikirkan di awal. Menunggu dosen berjam-jam hanya untuk bimbingan 10 menit saja. Tumpukan revisi, buku-buku, dan juga laptop menjadi teman setia setiap hari. Menjenuhkan..
Hey, rasanya stok semangat yang aku punya semakin menipis.
Terasa lelah menghadapi skripsi. Belum lagi skripsiku memang cukup sulit. Ketika teman yang lain sudah memulai untuk penelitian, aku masih jauh dengan itu semua. Sedih rasanya.. ingin mengeluh, ingin menangis, ingin segera selesai rasanya.
Tapi kemudian aku berpikir, bila nanti ini semua telah berakhir, apa yang akan aku lakukan?
Semakin aku memikirkannya, semakin ingin rasanya aku menangis. Aku tak tau..
Sepertinya aku butuh pasokan semangat yang cukup banyak..
aku butuh tawamu
aku butuh dukunganmu
katakan bahwa aku bisa
Katakan bahwa aku ini pintar
Katakan bahwa kau bangga padaku
Yakinkan bahwa aku mampu menyelesaikannya..
.
Sabtu, 28 Mei 2016
Dewani
Dewani..
Begitulah dia selalu menyebut dirinya.
Sesosok manusia baru yang aku kenal.
Dia adalah seorang teman. Dengan bahasalah kami berteman.
Banyak orang yang berkata bahwa dia aneh. Ya, awal aku mengenalnya pun juga merasa aneh. Dia selalu berkata bahwa pohon, hujan, kopi adalah teman setia baginya.
Cara berpikirnya, pandangannya akan banyak hal di dunia ini, tentang protesnya pada sifat buruk manusia, akan cinta, persahabatan, dan juga Tuhan. Dia menyampaikannya dengan bahasa yang berbeda. Dia selalu berbicara seolah dia punya dunianya sendiri. Tapi dia menikmatinya, sangat menikmatinya. Dan begitu bangga dengan bahasanya. Walau tak pernah aku ungkapkan, dari sekian banyak hal yang ada dalam dirinya, gaya bahasanyalah yang sangat menarik.
Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu lagi dengan seseorang yang ku sukai bahasanya selain dia.. ya dia orang pertama yang membuatku menyukai menulis.
Meski mereka berbeda, tapi mereka punya gaya bahasa yang lebih menarik dari kebanyakan orang. Mereka juga orang yang baik, walau kadang banyak orang yang tak bisa melihat kebaikannya.
oh ya, satu kesamaan lagi yang mereka punya, sama-sama suka tersenyum.
Hai teman baruku, terima kasih..
Ku doakan sukses untuk hidupmu.
Begitulah dia selalu menyebut dirinya.
Sesosok manusia baru yang aku kenal.
Dia adalah seorang teman. Dengan bahasalah kami berteman.
Banyak orang yang berkata bahwa dia aneh. Ya, awal aku mengenalnya pun juga merasa aneh. Dia selalu berkata bahwa pohon, hujan, kopi adalah teman setia baginya.
Cara berpikirnya, pandangannya akan banyak hal di dunia ini, tentang protesnya pada sifat buruk manusia, akan cinta, persahabatan, dan juga Tuhan. Dia menyampaikannya dengan bahasa yang berbeda. Dia selalu berbicara seolah dia punya dunianya sendiri. Tapi dia menikmatinya, sangat menikmatinya. Dan begitu bangga dengan bahasanya. Walau tak pernah aku ungkapkan, dari sekian banyak hal yang ada dalam dirinya, gaya bahasanyalah yang sangat menarik.
Aku tak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu lagi dengan seseorang yang ku sukai bahasanya selain dia.. ya dia orang pertama yang membuatku menyukai menulis.
Meski mereka berbeda, tapi mereka punya gaya bahasa yang lebih menarik dari kebanyakan orang. Mereka juga orang yang baik, walau kadang banyak orang yang tak bisa melihat kebaikannya.
oh ya, satu kesamaan lagi yang mereka punya, sama-sama suka tersenyum.
Hai teman baruku, terima kasih..
Ku doakan sukses untuk hidupmu.
Rabu, 11 Mei 2016
Cengeng
Setiap anak kecil pasti pernah menangis, begitu juga denganku saat kecil.
Aku selalu menangis saat merasa sakit, atau saat aku merasa kesal dengan permintaanku yang tak kunjung terwujud. Saat aku kecil, aku sangat terkenal dengan tangisanku yang keras dan lama. Aku bisa saja menangis hingga berjam-jam, mengurung diri di kamar dan masih banyak hal menyebalkan lain yang aku lakukan saat aku menangis. Itulah kenapa identitas sebagai anak cengeng sangat melekat padaku saat kecil. Aku, si anak yang hobinya nangis.
Sepertinya identitas itu terus melekat hingga kini.
Aku masih terus saja mudah menangis. Yang membedakan adalah kini tangisanku tidak lagi sekeras dulu saat aku kecil. Aku masih tetap menangis ketika aku merasa tersakiti, dan anehnya aku selalu saja menangis saat moodku buruk. Entah itu karena aku marah, kesal, bete, atau kecewa. Entahlah.. itu terasa menyebalkan untukku.
Bila mungkin orang lain akan marah berteriak atau mengumpat saat dia merasa kesal, tapi tidak denganku. Aku akan menangis menahan kekesalanku sendiri, hingga aku lelah untuk menangis dan akhirnya aku tertidur.
Begitulah aku, orang yang tak pandai mengutarakan isi hatinya. Yang hanya memilih diam dan menangis menahan emosi hati. Ternyata memang aku masih saja cengeng. Terkadang aku ingin seperti yang lain, yang marah ketika dia kesal, bukan malah menangis sendiri. Namun ketika aku dihadapkan dengan momen yang menyedihkan, dimana normalnya banyak orang yang akan menangis saat berada di posisiku, aku tidak menangis. Entahlah, memang terasa sakit, seolah seperti ada yang meremas hatimu, begitu menyakitkan rasanya, namun tetap sulit sekali untuk menangis.
Entahlah..
Aku selalu menangis saat merasa sakit, atau saat aku merasa kesal dengan permintaanku yang tak kunjung terwujud. Saat aku kecil, aku sangat terkenal dengan tangisanku yang keras dan lama. Aku bisa saja menangis hingga berjam-jam, mengurung diri di kamar dan masih banyak hal menyebalkan lain yang aku lakukan saat aku menangis. Itulah kenapa identitas sebagai anak cengeng sangat melekat padaku saat kecil. Aku, si anak yang hobinya nangis.
Sepertinya identitas itu terus melekat hingga kini.
Aku masih terus saja mudah menangis. Yang membedakan adalah kini tangisanku tidak lagi sekeras dulu saat aku kecil. Aku masih tetap menangis ketika aku merasa tersakiti, dan anehnya aku selalu saja menangis saat moodku buruk. Entah itu karena aku marah, kesal, bete, atau kecewa. Entahlah.. itu terasa menyebalkan untukku.
Bila mungkin orang lain akan marah berteriak atau mengumpat saat dia merasa kesal, tapi tidak denganku. Aku akan menangis menahan kekesalanku sendiri, hingga aku lelah untuk menangis dan akhirnya aku tertidur.
Begitulah aku, orang yang tak pandai mengutarakan isi hatinya. Yang hanya memilih diam dan menangis menahan emosi hati. Ternyata memang aku masih saja cengeng. Terkadang aku ingin seperti yang lain, yang marah ketika dia kesal, bukan malah menangis sendiri. Namun ketika aku dihadapkan dengan momen yang menyedihkan, dimana normalnya banyak orang yang akan menangis saat berada di posisiku, aku tidak menangis. Entahlah, memang terasa sakit, seolah seperti ada yang meremas hatimu, begitu menyakitkan rasanya, namun tetap sulit sekali untuk menangis.
Entahlah..
Langganan:
Komentar (Atom)