.

.

Sabtu, 26 September 2015

Komunikasi

Nyebelin.
Satu kata yang mampu mewakili perasaanku saat ini.
Susah payah aku akui kalau aku rindu padamu, tapi reaksi kamu cuma gitu doang.
Berminggu-minggu tidak saling menghubungi, kamu pikir enak?
Selalu ragu untuk menghubungi kamu karena alasan itu, eh kamunya ternyata begitu. Sebel sama kamu ih. 

Kenapa sih kita selalu saja salah paham?
Kamu kesel karena aku gak hubungi kamu. Kamu pikir berapa kali aku ngetik pesan buat kamu yang ujungnya selalu aku hapus lagi karena aku takut ganggu kamu disana? Kamu sendiri yang bilang kalo kamu mau fokus. Ya jelas aku beri kamu waktu untuk menyelesaikannya. Tapi giliran udah begini malah salah paham.
Lagian juga kenapa kamu gak pernah hubungi aku selama ini? 

Begini nih, kamu nunggu, aku juga nunggu. Jadi kapan ketemunya?
Setiap kali aku berusaha untuk bersikap normal, disaat itulah kita pasti selalu berujung begini.
Baru ngobrol bentar, udah tau akunya kangen, tapi kamu langsung pergi lagi.
Ya aku tau kamu masih menginginkannya, tapi kamu lebih memilih jarak yang aman.
Ingin, namun juga tak ingin.
Aku tau itu, karena aku pun merasakan hal yang sama.

Kepergianmu, begitu terasa untukku. Apa kamu tau apa yang sedang aku hadapi saat ini? Rasanya ingin aku membagi semuanya seperti yang dulu sering aku lakukan. Tapi sekarang berbeda. Aku harus menghadapi segalanya sendiri lagi.
Kamu merasa kesulitan, tapi apa kamu tau aku pun disini merasa jauh lebih kesulitan.
Kita selalu terkendala dengan komunikasi.
Andai kamu tau..
Andai kita bisa lebih pandai mengutarakan isi hati kita..


Selasa, 22 September 2015

22 September 2015

Salah satu hal yang aku benci adalah tidurku yang terganggu. Dan hari ini ketika tubuh terasa begitu sangat lelah dan suasana hati yang cukup buruk, masih saja ada yang berani mengganggu tidurku. Kepala terasa begitu pusing, badan sakit semua, perut ikutan kambuh lagi, dan yang pasti mood benar-benar buruk.
Hampir setiap hari harus pulang sore, ditambah tugas mengajar yang bikin pusing, tiap malam tidur malam terus, rasanya capek banget, makan gak teratur lagi, perut protes mulu jadinya.

Kemarin lagi, yang harusnya bantu ekskul PMR ngurusin orang sakit, eh karena ada kesurupan masal jadi berubah ngurusin anak-anak yang kesurupan. Gimana gak horor coba?
Namanya kesurupan masal ya sudah pasti yang kesurupan gak cuma satu atau dua orang, gak tanggung-tanggung ada 8 orang yang kesurupan secara serempak. Yang bikin aneh, kenapa semua malah dibawa ke UKS. UKS kan tempat orang sakit, bukan orang kesurupan -_-
Jelas kita semua yang ada di UKS kebingungan dong, yang biasa dihadapi kan orang-orang pingsan, nah ini suruh ngehadapi setan.. Ngedadak UKS berubah dari tempat yang paling famous beberapa hari ini. Kenapa aku bilang beberapa hari ini? Karena aksi kesurupan masal gak cuma terjadi satu hari saja, tapi berhari-hari.
Horor banget tu sekolah.
Yang apesnya tuh anak PMR nya, mereka harus mengungsu mencari tempat lain untuk latihan. Apalagi mereka sedang sibuk-sibuknya latihan untuk lomba. Dan aku selaku pembimbing ekskul PMR juga jadi ketiban susahnya.

Bayangin, ngajar aja udah cukup melelahkan, sikap guru yang sensian sama anak PPL ditambah dengan anggota PPL yang besikap seenak jidatnya pun sudah cukup bikin makan hati, ini ditambah harus ngebimbing persiapan lomba dan olimpiade PMR. Tubuh dan hati sangat butuh istirahat..

Malam ini rasanya lelah sekali. Untuk semua yang sulit menghubungiku maaf. Dengan keadaan yang sedang seperti ini, yang dibutuhkan hanya ingin sendiri. Kalau memang tak ada yang penting banget, jangan ganggu dulu deh..

Senin, 14 September 2015

Single

Menjalin suatu hubungan mungkin bukanlah suatu hal yang mudah bagi sebagian orang. Harus menerima kelebihan dan kekurangan diri seseorang. Menyatukan banyak perbedaan yang ada menjadi suatu kolaborasi yang nantinya bisa saling melengkapi.
Namun tak ayal, meski terlihat sangat sulit, semua tak henti mencari pasangan hidupnya. Putus nyambung tuk mencari jodoh yang tepat atau hanya karena keisengan semata adalah hal yang sangat umum kita alami.
Sampai-sampai terciptalah istilah jones untuk mereka yang sulit mendapatkan pasangan. Lihatlah, betapa istilah 'pasangan' sudah merupakan keharusan atau sebuah tren yang tak boleh kita abaikan. Semua orang berlomba-lomba mencari pasangan.

Beberapa hari yang lalu seorang temanku bertanya mengenai status hubunganku. Kenapa aku bertahan tuk sendiri sekian lama sedangkan banyak orang yang berlomba memiliki bahkan memperbanyak pasangan mereka. Dia bertanya apakah aku tak ingin berpacaran karena agamaku atau karena gak ada yang tertarik padaku. Mendengarnya membuatku tertawa karena lucu. Namun kemudian ku jawab bahwa bukan keduanya lah aku sendiri sekian lama.

Pertama, aku sadar bahwa aku bukanlah seseorang dengan akhlak yang sesempurna itu. Keimananku belum sebesar itu, tapi aku harap semoga kelak aku mampu seperti itu. Dan yang kedua, aku juga sadari bahwa diriku punya begitu banyak kekurangan. Dengan tubuh yang tergolong mirip tubuh anak SMP, meski kulitku putih tapi aku punya wajah yang tergolong biasa-biasa saja. Tak heran kalau banyak orang berpikir kesendirianku dikarenakan tak adanya lelaki yang tertarik padaku. Namun kalian boleh  tidak percaya, bahwa tidak hanya ada satu atau dua lelaki yang ku tolak pernyataan cintanya selama waktu kesendirianku. Dari mulai yang biasa-biasa saja sampai mereka yang tergolong luar biasa.

Beberapa orang sahabatku terheran dengan penolakanku, terutama pada mereka yang tergolong luar biasa. Tapi mau gimana lagi, mungkin memang belum jodohnya.
Aku bukanlah tipe orang yang takut mendapat sebutan jones, bukan juga orang yang akan dengan sembarangan memilih lelakiku hanya demi tuk memamerkannya kepada khalayak umum. Bukan, aku bukanlah orang seperti itu. Aku mencintai dan menghargai diriku juga pasanganku. 

Kadang emang suka rindu sih punya pasangan. Bukan rindu pada malam minggunya, bukan karena ada yang antar jemput, bukan juga karena iri pada pasangan lain. Bukan!
Yang dirindukan adalah seseorang yang akan menggenggam tanganku, tertawa bersamaku, melakukan banyak hal konyol bersama, kita yang saling mengejek, seseorang yang tak bosannya mendengar semua yang aku katakan.. Aku rindu berpusing ria memilih baju mana yang akan aku kenakan, sepatu mana yang aku pilih untuk sekedar bertemu dengannya. Hal-hal seperti itulah yang terkadang membuat rindu..

Ditanya rindu gak, ya rindu. Pengen gak punya pasangan, ya jelas pengen. Tapi apa daya kalau tak ada yang cocok. Apa kita harus memaksakan mendapatkan pasangan hanya demi gengsi semata? Rasanya begitu konyol. Menolak pun bukan berarti aku tak bersyukur ada yang mencintaiku. Aku menolak mereka karena aku menghargai mereka. Seganteng, sekaya, sebaik, secinta, atau sesempurna apapun mereka, kalau memang tidaklah cocok apa kita harus tetap memaksakannya?

Being single is staying single for the right love
Itu jawabanku..

Sabtu, 05 September 2015

Sendiri

Lagi-lagi perasaan seperti ini..
Walau banyak orang yang ada di sekelilingku, meski aku tertawa bersama mereka semua, namun aku masih saja merasa kesepian. Aku merasa sendiri.
Dulu aku pernah merasakan hal seperti ini, memendam segala yang kurasakan sendiri.
Terasa begitu berat segalanya. Aku harus tertawa meski rasanya aku ingin menangis. Bukan karena aku tak boleh menangis, bukan juga karena aku tak ingin, namun aku tak mampu.
Dari kecil aku memang selalu kesulitan dalam mengungkapkan apa yang aku rasakan dan apa yang aku inginkan. Sepertinya itu masih menjadi kesulitan bagiku. Berkali ku coba tuk ungkap segala yang ku rasakan, namun berkali itu juga aku tak mampu.
Terasa begitu melelahkan berpura-pura bahagia, seolah aku baik-baik saja.
Tidak, rasanya sangat menyesakkan, rasanya begitu sangat menyebalkan, tapi..

Tak pernah ku mampu ungkap segala yang ku rasakan, ingin sekali aku menyerah dan berkata bahwa aku tak sanggup lagi menyimpannya sendiri. Dalam malamku hanya tangis yang mampu ku wujudkan tuk ungkapkan betapa lelahnya diriku.

Pernah aku coba tuk ungkap segalanya, namun urung ku lakukan. Kini terasa begitu menyakitkan tuk mencoba percaya. Namun memendamnya sendiri pun terasa begitu menyiksa. Ku ingin seseorang mengerti, setidaknya mendengar dan menemaniku, menggenggam jemariku, bersandar dalam peluknya saat raga tak lagi mampu membendung rasa sakit di hati.