Menjalin suatu hubungan mungkin bukanlah suatu hal yang mudah bagi sebagian orang. Harus menerima kelebihan dan kekurangan diri seseorang. Menyatukan banyak perbedaan yang ada menjadi suatu kolaborasi yang nantinya bisa saling melengkapi.
Namun tak ayal, meski terlihat sangat sulit, semua tak henti mencari pasangan hidupnya. Putus nyambung tuk mencari jodoh yang tepat atau hanya karena keisengan semata adalah hal yang sangat umum kita alami.
Sampai-sampai terciptalah istilah jones untuk mereka yang sulit mendapatkan pasangan. Lihatlah, betapa istilah 'pasangan' sudah merupakan keharusan atau sebuah tren yang tak boleh kita abaikan. Semua orang berlomba-lomba mencari pasangan.
Beberapa hari yang lalu seorang temanku bertanya mengenai status hubunganku. Kenapa aku bertahan tuk sendiri sekian lama sedangkan banyak orang yang berlomba memiliki bahkan memperbanyak pasangan mereka. Dia bertanya apakah aku tak ingin berpacaran karena agamaku atau karena gak ada yang tertarik padaku. Mendengarnya membuatku tertawa karena lucu. Namun kemudian ku jawab bahwa bukan keduanya lah aku sendiri sekian lama.
Pertama, aku sadar bahwa aku bukanlah seseorang dengan akhlak yang sesempurna itu. Keimananku belum sebesar itu, tapi aku harap semoga kelak aku mampu seperti itu. Dan yang kedua, aku juga sadari bahwa diriku punya begitu banyak kekurangan. Dengan tubuh yang tergolong mirip tubuh anak SMP, meski kulitku putih tapi aku punya wajah yang tergolong biasa-biasa saja. Tak heran kalau banyak orang berpikir kesendirianku dikarenakan tak adanya lelaki yang tertarik padaku. Namun kalian boleh tidak percaya, bahwa tidak hanya ada satu atau dua lelaki yang ku tolak pernyataan cintanya selama waktu kesendirianku. Dari mulai yang biasa-biasa saja sampai mereka yang tergolong luar biasa.
Beberapa orang sahabatku terheran dengan penolakanku, terutama pada mereka yang tergolong luar biasa. Tapi mau gimana lagi, mungkin memang belum jodohnya.
Aku bukanlah tipe orang yang takut mendapat sebutan jones, bukan juga orang yang akan dengan sembarangan memilih lelakiku hanya demi tuk memamerkannya kepada khalayak umum. Bukan, aku bukanlah orang seperti itu. Aku mencintai dan menghargai diriku juga pasanganku.
Kadang emang suka rindu sih punya pasangan. Bukan rindu pada malam minggunya, bukan karena ada yang antar jemput, bukan juga karena iri pada pasangan lain. Bukan!
Yang dirindukan adalah seseorang yang akan menggenggam tanganku, tertawa bersamaku, melakukan banyak hal konyol bersama, kita yang saling mengejek, seseorang yang tak bosannya mendengar semua yang aku katakan.. Aku rindu berpusing ria memilih baju mana yang akan aku kenakan, sepatu mana yang aku pilih untuk sekedar bertemu dengannya. Hal-hal seperti itulah yang terkadang membuat rindu..
Ditanya rindu gak, ya rindu. Pengen gak punya pasangan, ya jelas pengen. Tapi apa daya kalau tak ada yang cocok. Apa kita harus memaksakan mendapatkan pasangan hanya demi gengsi semata? Rasanya begitu konyol. Menolak pun bukan berarti aku tak bersyukur ada yang mencintaiku. Aku menolak mereka karena aku menghargai mereka. Seganteng, sekaya, sebaik, secinta, atau sesempurna apapun mereka, kalau memang tidaklah cocok apa kita harus tetap memaksakannya?
Being single is staying single for the right love
Itu jawabanku..