.

.

Senin, 30 Juni 2014

Sweet Surprise

Awalnya aku tak begitu memperhatikannya, dari sekian banyak orang yang berlalu-lalang di depanku entah mengapa satu sosok itu yang menarik perhatianku. Cowok dengan tubuh tinggi tegap dan berkulit putih itu menggunakan kemeja berwarna biru dongker dengan bagian lengannya digulung sedikit  keatas yang membuatnya semakin terlihat menarik. Tapi semakin aku lihat rasanya ini bukan hanya tentang parasnya, rasanya dia tak asing di memoriku.
Oh iya, sebenarnya hari ini aku sedang ada janji buat nonton dengan salah satu temanku. Sayangnya aku lupa kalo temenku ini punya penyakit ngaret yang kronis abis. Walhasil aku harus sabar nunggu tu anak. Rasanya emang ngebetein nunggu orang sendirian tuh. Cecelingukan ngeliatin orang yang baru masuk, kalo-kalo aja salah satunya temen aku.
Nah disaat aku lagi cecelingukan, gak sengaja ngeliat satu sosok yang akhirnya malah bikin aku penasaran. Saking penasarannya aku liatin terus itu cowok. Entah mungkin dia ngerasa kalau dari tadi aku liatin dia terus lalu kemudian ngerasa risih, akhirnya itu cowok nyamperin aku. Kaget liat reaksi cowok itu, aku langsung gugup gak tau harus ngapain. Mampus kan!
Sok-sok berlaga tenang, padahal hati udah jumpalitan gak tau mesti ngomong apa kalau-kalau itu cowok marah-marah karena aku liatin mulu dari tadi, aku tetep duduk diam dan sok gak peduli dengan kedatangannya. Semakin dia dekat, aku bisa melihat kalau dia tersenyum kearahku dan melambaikan tangannya. Aku yang saat itu kebingungan, cuma bisa cecelingukan ke arah orang-orang yang ada di sekitarku. Kali aja aku udah kepedean, yang ternyata itu cowok mau nyamperin temennya yang duduk gak jauh dariku, bukannya mau nyamperin orang aneh yang udah dari tadi ngeliatin dia tanpa sebab.
Sampai akhirnya dia berdiri tepat di depanku. Damn! mau apa ini orang?!
Cowok : Hai, Susi kan?
Aku : Iya, tapi siapa ya?
Cowok : Ini saya, Abe.
Oh God, rasanya pengen teriak saking senengnya. Dia, orang yang dari tadi aku liatin, ternyata kak Abe. Siapakah kak Abe? Dia adalah cowok yang aku kagumi dulu saat SMA. Jabatannya di OSIS, dengan paras yang cukup tampan, pendiam, pintar pula, gak heran kalau banyak parempuan yang mengaguminya saat itu. Dia gak pernah tau kalau aku sempat mengaguminya, bahkan mungkin sampai sekarang. Karena salah seorang sohibku adalah teman adik perempuannya, jadi aku sering datang ke rumahnya untuk menemani sohibku itu. Jadi, dia kenal aku sebagai teman adik perempuannya, bukan pengagumnya.
Dia dua tahun lebih tua dariku, jadi setelah satu tahun aku mengaguminya dia lulus SMA. Saat acara perpisahan, aku minta tolong temanku untuk membantuku meminta foto berdua dengannya. Akhirnya dengan susah payah aku pun berhasil berfoto dengannya, walau ujungnya kita harus berfoto bertiga dengan sohibku. Rasanya seneng banget, tapi kesenangan itu tak bertahan lama setelah aku tau kalau dia akan meneruskan pendidikannya di luar negeri, dia akan ke Jerman. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar tentangnya.
Sudah empat tahun berlalu, dia masih tetap wangi seperti dulu, kulitnya makin putih, dia juga bertambah tinggi, dan dia berkaca mata sekarang, mungkin itu yang membuatku tak mengenalinya.
Akhirnya setelah dia tau aku sudah mengenalinya, dia duduk di sebelahku. Ternyata dia baru pulang seminggu yang lalu, dan sekarang dia juga sedang menunggu salah satu temannya. Sama-sama sedang menunggu teman, kita pun akhirnya mengobrol bersama. Kebeteanku saat itu seketika berubah jadi kebahagiaan yang tak pernah aku sangka, bahkan diam-diam aku berdoa agar temanku tak cepat-cepat datang hehehe
Sayang, entah minum obat apa dia hari ini hingga akhirnya dia cuma telat 15 menit. Dan terpaksa aku harus menyudahi pertemuanku dengan kak Abe. Tapi tak apa, yang pasti ini adalah kejutan yang sangat indah, pertama karena gak nyangka bisa ketemu dia lagi setelah sekian lama, kedua karena dia yang mengenaliku duluan, dan yang ketiga ternyata dia tau namaku. hahahahaha :D

Minggu, 29 Juni 2014

Quotes

Perubahan memang tak menjamin kebahagiaan, tapi tidak ada kebahagiaan tanpa adanya perubahan.

Minggu, 15 Juni 2014

Untuk Temanku H

Bila kamu tanya apa mau ku, mau ku hanya satu. Tak pernah mengenalmu, atau kamu tak pernah mengecewakanku. Namun sayangnya itu semua tak mungkin terjadi.
Kemudian kamu pun bertanya apakah aku sungguh-sungguh dengan keputusanku malam ini. Aku tak tau.
Mungkin ini yang terbaik, mungkin juga bukan.
Aku tak tau dengan apa yang aku katakan, apa yang aku lakukan, apa yang akan aku katakan atau pun apa yang akan aku lakukan. Aku tak yakin dengan semua itu.
Mungkin aku akan bahagia, mungkin aku juga akan menyesal dengan keputusanku malam ini. Tapi yang pasti, percayalah bahwa ini yang terbaik untuk kita saat ini.
Tiga bulan untuk mencoba melupakannya, lalu dua bulan mencoba berdamai dengan semua amarah yang ada, tak cukup untuk ku. Waktu lima bulan terlalu singkat untuk kita belajar dewasa, memahami kesalahan kita, mencari hikmah dari segala kejadian ini, dan saling memahami satu sama lain.
Kita terlalu naif untuk saling berjanji berubah. Aku pun tak sepenuhnya menyalahkan dirimu, aku pun tau aku salah.
Kamu berkata bahwa kamu akan berubah, tapi aku tak yakin bahwa aku mampu berubah bila kita tetap bersama.
Kita butuh waktu, namun perubahan tak hanya membutuhkan waktu. Dia butuh kita untuk dewasa lalu waktu akan memberikannya pada kita.
Hingga tiba saat itu, saat dimana ego tak lagi merajai jiwa kita. Saat dimana kita mampu menahan rasa keinginan kita, saat dimana kita mampu saling memahami dan tak menyakiti. Kita akan bertemu, saat kita telah siap.