24 Juli
Hari ini aku putuskan untuk keluar dari rutinitasku. Liburan mengurung diri di rumah sangatlah membosankan. Ku putuskan untuk keluar dari kebangkeanku dan pergi ngegembel sendirian. Jalan kesana-kesini tanpa tujuan. Mencari sesuatu yang dicari, tapi tak menemukannya. Hingga akhirnya di tengah penggembelanku, aku bertemu dengannya. Karena lama tak jumpa, kita pun pergi bersama. Hingga akhirnya dia bertanya, “lagi ada masalah ya de?”
Hari ini aku putuskan untuk keluar dari rutinitasku. Liburan mengurung diri di rumah sangatlah membosankan. Ku putuskan untuk keluar dari kebangkeanku dan pergi ngegembel sendirian. Jalan kesana-kesini tanpa tujuan. Mencari sesuatu yang dicari, tapi tak menemukannya. Hingga akhirnya di tengah penggembelanku, aku bertemu dengannya. Karena lama tak jumpa, kita pun pergi bersama. Hingga akhirnya dia bertanya, “lagi ada masalah ya de?”
Dia adalah sahabat lama, seperti
seorang dokter dia bagiku. Lalu dua tahun lalu dia pun pindah ke Sumatera
bersama dengan keluarganya. Dan kini, dia masih tetap sama, tetap sama. Seperti
tahu apa yang sedang aku pikirkan, kebisuanku membuatnya mengerti. “Apa yang
mau kamu lakukan sekarang de?”
Sambil tersenyum puas, aku pun
mengatakan daftar yang ingin aku lakukan. Hehehe J
Bersamanya aku habiskan waktu. Sampailah kita pada permainan lama kita. Siapa
yang kalah, dialah yang akan menuruti permintaan si pemenang. Dan ternyata, aku
kalah, lagi... Sebagai bayarannya aku haruslah bersandiwara dengannya malam ini...
17:30 tepat kita tiba pada
panggung pementasan kita. Dengan penampilannya yang santai namun tetap terlihat
sempurna, dia mengimbangi penampilanku. Beberapa langkah kita bersama, seorang
perempuan cantik menghampirinya, lalu dia berkata, “kenalin, ini cewek saya.”
Dan aku pun kini mengerti maksud dari ‘sandiwara’ yang dia minta.
Tanpa bermaksud ingin
mengecewakan seseorang yang telah menolongku hari ini, aku lakukan peranku
sesempurna mungkin. Namun sayang, dia tetap membawakan perannya jauh lebih
sempurna dibanding aku. Alhasil, perempuan cantik tadi hanya mampu memandang
sinis padaku sepanjang ‘sandiwara’ kita. Dan itu merupakan hal yang paling
menyenangkan dalam peranku.
“makasih de”
“sama-sama ka ”
“seperti simbiosis mutualisme ya
de?”
Dan simbiosis mutualisme kita
diakhiri dengan sebuah muffin coklat kecil, ditambah dengan satu batang lilin
mati lampu yang besar. “happy birthday de”
Tanggal tidaklah penting, yang
terpenting adalah kesungguhan kaka, itu yang dia katakan.
Makasih kaka